Project STOP Tunjukkan Dampak Positif di Tahun 2020 melalui Pengelolaan Sampah Sirkuler di Indonesia

 

Lebih dari 133.500 orang telah dijangkau oleh layanan pengelolaan sampah berkelanjutan di tiga kota pesisir

29 Maret, 2021, Bali Project STOP dan mitra-mitranya merayakan sejumlah capaian dalam upaya menghindari kebocoran sampah plastik ke lingkungan di Indonesia. Sejak dimulai pada tahun 2017, hingga akhir tahun 2020, inisiatif ini telah mencapai tujuan untuk membawa pengelolaan sampah kepada lebih dari 133.500 orang, membangun lima fasilitas pengolahan sampah terpadu yang secara kolektif akan mengolah 150 ton sampah per hari dan berkontribusi untuk mencegah lebih dari 8.123 ton sampah (1.118 ton diantaranya adalah plastik) agar tidak bocor ke lingkungan. Setelah mencapai skala penuh pada akhir tahun 2022, tiga kemitraan kota di Project STOP akan menjangkau 450.000 orang dan mencegah 45.400 ton sampah agar tidak bocor dan mencemari lingkungan, termasuk 5.700 ton plastik melalui pengelolaan sampah yang lebih sirkuler, dan berkelanjutan secara ekonomi.

Didirikan Bersama Borealis dan SYSTEMIQ pada tahun 2017, Project STOP bekerja sama dengan pemerintah kabupaten untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah sirkuler yang efektif di wilayah dengan kebutuhan tinggi di Asia Tenggara. Project STOP mendukung sejumlah kota dengan keahlian teknis untuk menciptakan sistem pengolahan sampah sirkuler untuk menghentikan kebocoran sampah, meningkatkan daur ulang yang berkelanjutan secara ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mengurangi dampak berbahaya akibat sampah yang salah Kelola bagi kesehatan masyarakat, sector pariwisata dan perikanan. Saat ini, Project STOP beroperasi di tiga kota kemitraan, termasuk daerah pesisir di Muncar dan Pasuruan, Jawa Timur dan Jembrana, di pesisir barat laut Bali.

Hingga akhir 2020, Project STOP telah memperoleh sejumlah capaian penting, termasuk:

  1. Membawa layanan pengangkutan sampah kepada lebih dari 133.500 orang, Sebagian besar untuk pertama kalinya.
  2. Menghentikan 8.123 ton sampah (1.118 ton plastik) agar tidak mencemari lingkungan.
  3. Menciptakan lapangan pekerjaan bagi 168 pekerja di sektor persampahan, yang akan bertambah hingga lebih dari 250 pekerja hingga akhir program.
  4. Menyelesaikan konstruksi lima fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) – satu fasilitas di Jembrana, Bali dengan kapasitas 50 ton/hari, dua fasilitas di Pasuruan, Jawa Timur dengan kapasitas 30 ton/hari, dan dua fasilitas di Muncar, Jawa Timur, dengan kapasitas 20 ton/hari, sehingga total kapasitas pemrosesan Project STOP mencapai 150 ton/hari.
  5. Menggunakan berbagai model tata keloa untuk mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih stabil dan professional.
  6. Mengembangkan kurikulum yang ekstensif untuk melatih pemerintah dan lainnya dalam mengatur dan mengoperasikan sistem pengolahan sampah.

Seperti banyaknya organisasi lain yang menghadapi pandemi COVID-19, Project STOP menghadapi tantangan untuk memastikan layanan pengelolaan sampah yang berkelanjutan bagi masyarakat di tempatnya beroperasi. Layanan pengelolaan sampah sangat penting untuk kesehatan masyarat, serta mencegah sampah plastik agar tidak mencemari lingkungan. Sejak awal pandemi di Indonesia, Project STOP melakukan pengujian cepat (rapid test), pelatihan terkait kebersihan dan COVID-19, memasang dan memelihara tempat untuk mencuci tangan, dan mengukur suhu pekerja setiap pagi. Pekerja terus memakai peralatan pelindung, termasuk sarung tangan, masker, dan mempraktikkan jarak sosial. Kendaraan dan peralatan pengangkutan sampah dibersikan setiap hari, termasuk permukaan lainnya yang dibersihkan beberapa kali sehari.

“Pemerintah Kabupaten Pasuruan mendukung inisiatif Project STOP dalam mendorong sistem pengelolaan sampah terpadu yang berkelanjutan bagi masyarakat di Kecamatan Lekok dan Nguling,” ujar Bapak Heru Farianto, S. Sos, M.Si Kepala DLH Kabupaten Pasuruan, “melalui kemitraan ini, kami mengalokasikan lahan di dua kecamatan untuk pembangunan TPST, membangun kelembagaan, serta bekerjasama mengimplementasikan kebijakan pengelolaan sampah yang ada secara efektif.” “Kemitraan dengan Project STOP telah membantu kami dalam menghadirkan layanan pengelolaan sampah kepada lebih banyak orang dengan efisien,” kata Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, Bupati Banyuwangi. “Kami berencana untuk mendorong perkembangan Kabupaten Banyuwangi di masa yang akan datang. Kami sangat senang dengan hadirnya Project STOP sebagai contoh yang baik, dan dengan adanya tim lapangan sebagai penasihat yang terpercaya. Untuk mencapai komitmen nasional pengurangan 70% aliran sampah plastik laut pada tahun 2025, kemitraan seperti ini merupakan hal yang sangat penting untuk kami.” “Terlepas dari sejumlah tantangan yang disebabkan oleh COVID-19, tahun 2020 merupakan tahun yang sangat sukses untuk Project STOP,” kata Alfred Stern, CEO Borealis. “Kami berterima kasih kepada semua pekerja di garda terdepan dalam Project STOP karena telah menjaga agar layanan penting ini tetap berjalan selama pandemi. Inisiatif ini terus memberikan manfaat yang kami harapkan dan pencapaiannya hingga saat ini menunjukkan seberapa baik ini didirikan, dedikasi tim yang bekerja dan pentingnya layanan ini bagi masyarakat yang menerimanya.”

"Keberhasilan yang dicapai adalah hasil dari begitu banyak orang yang menginspirasi dan berkomitmen dari pemerintah nasional dan daerah, kelompok masyararakat, dan mitra strategis kami yang bekerja secara produktif untuk membangun sistem pengolahan sampah yang sirkuler, tanpa kebocoran. Hal ini merupakan upaya dari tim,” ujar Joi Danielson, Partner di SYSTEMIQ. “Kami berharap dapat mendukung semakin banyak kota untuk membangun sistem pengolahan sampah modern dan menghentikan ribuan ton sampah yang dapat mencemari lingkungan pada tahun-tahun mendatang.”

Selain Borealis dan SYSTEMIQ, Project STOP berterima kasih kepada sejumlah mitra strategis yang juga menyediakan keahlian teknis, diantaranya Kementerian Luar Negeri Norwegia, NOVA Chemicals, Nestlé, the Alliance to End Plastic Waste, Borouge dan Siegwerk. Mitra teknis dan pendukung inisiatif ini adalah Veolia, Sustainable Waste Indonesia, Schwarz dan HP.

Inisiatif ini terlaksana oleh dan dengan dukungan penuh dari Pemerintah di tingkat nasional dan daerah, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Pemerintah Kabupaten Jembrana, termasuk Dinas Lingkungan Hidup di Muncar-Banyuwangi, Pasuruan dan Jembrana.

###

Tentang Project STOP

Diluncurkan pada tahun 2017 oleh Borealis dan SYSTEMIQ, Project STOP (Stop Ocean Plastics) bekerja dengan sejumlah kota untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif untuk menghilangkan kebocoran plastik ke laut dan menciptakan sistem ekonomi sirkuler di Asia Tenggara. Didukung oleh mitra industri dan pemerintah, Project STOP bertujuan untuk mencapai nol persen kebocoran sampah ke lingkungan, mendaur ulang lebih banyak plastik, berkelanjutan secara ekonomi, dan menciptakan manfaat, termasuk pekerjaan bagi masyarakat lokal. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang inisiatif ini, silakan kunjungi www.stopoceanplastics.com atau kunjungi kami di Twitter @endoceanplastic atau di Instagram @endingoceanplastics.

Leave a Reply